Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2019

Menghadirkan (Ruh) al- Quran


Opini





Oleh Budiman, S.Ag., M.H.I. (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)





Alquran membumi setelah sebelumnya melangit bukan tanpa alasan. Ia 'turun' dengan sejumlah misi, dan misi utamanya adalah untuk menjadi hudan (panduan) bagi segenap manusia dalam hidup dan kehidupannya.





Selain itu, Alquran adalah Annur dan Nur (cahaya). Kedua terma ini menunjuk pada nama dan fungsi Alquran yang dapat bermakna "cahaya" yang menerangi bumi, langit, hati, bahkan semesta.





Agaknya tidak berlebihan apabila dinyatakan bahwa proses penyebarluasan cahaya di bumi melalui Alquran dimulai saat Baginda Nabi SAW hijrah dari Mekah ke Yatsrib.





Itu sebabnya ketika menetap di Yatsrib, Baginda Nabi mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah Munawwarah (kota/peradaban yg tercahayakan).





Dalam ungkapan lain, hijrah Baginda Nabi merupakan proses "transmisi cahaya" yang secara kasat mata akumulasi cahaya itu telah rampung tatkala berakhirnya pewahyuan dan dengan adanya upaya para sahabat untuk mengkodifikasi Alquran secara fisik yang sampai saat ini telah mengalami inovasi kreatif disesuaikan dengan kebutuhan umat.





Wujud tampilan fisik Alquran dari masa ke masa mengalami penyesuaian. Ia "ada" di setiap rumah muslim dan ini tentu menggembirakan. Namun, kabar buruknya, keberadaan Alquran belum sepenuhnya "hadir" di dalam hati sebagian umat.





Alquran menuntun manusia untuk menebarkan positive thingking di tengah-tengah kehidupan, yang mengemuka adalah justru sebaliknya.





Alquran memberi pencerahan bagi manusia untuk membiasakan kesantunan bertutur dan kesopanan berprilaku, yang terjadi malah sebaliknya.





Alquran mengenalkan rambu-rambu dalam berinterkasi antarsesama dengan mengedepankan sikap saling mengerti, memahami dan memaklumi (ta'aruf), yang tersaji sebaliknya.





Alquran mendorong manusia untuk menebar kedamaian di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, yang terlihat di permukaan adalah pemandangan sebaliknya.





Bahkan hal-hal yang sifatnya sederhana pun bisa berubah seolah-olah rumit dan terkesan menyentuh wilayah keyakinan seringkali menjadi pemantik untuk dijadikan komoditi debat kusir yang ujung-ujungnya menafikan pihak lain.





Karenanya, selain "proyek peng-ADA-an" fisik kitab suci ini, juga tak kalah pentingnya adalah "proyek peng-HADIR-an" ruh atau spirit di balik upaya mengeja huruf-huruf Alquran itu agar ia fungsional sebagaimana misi awalnya.[]





Pasar Lakessi, Parepare
22 September 2019


Minggu, 01 September 2019

Budiman Sulaiman Bawakan Taushiyah Peringatan Tahun Baru Islam di Kota Parepare


Humas IAIN Parepare --- Pemerintah Kota Parepare menggelar peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1441 H dengan melaksanakan zikir dan taushiyah di Masjid Raya, Sabtu malam, 31/8/2019. Dosen IAIN Parepare, Budiman Sulaiman, S.H.,M.H.I., menjadi pembawah taushiyah pada acara tersebut.









Acara zikir dan taushiyah yang dilaksanakan ba'da Shalat Magrib ini, dihadiri Wakil Walikota Parepare, H.A. Pangeran Rahim, Kepala Kementerian Agama Parepare, Kapolresta Parepare, para pejabat struktural dan fungsional Pemkot, Tim Safari Zikir TP Center, Jamaah dan sejumlah tokoh masyarakat. Nampak juga hadir, Wakil Rektor IAIN Parepare H. Muhammad Shaleh, yang juga Ketua Majelis Anak Shaleh Kota Parepare.









Dalam taushiyahnya, utstadz Budiman Sulaiman mengurai peristiwa dan makna hijrah Rasulullah Saw. "Hijrah adalah gambaran perjuangan Rasulullah Saw untuk menyelamatkan aqidah. Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah bukan takut mati tapi karena Rasulullah Saw pada waktu itu masih minoritas. Dalam sejarah disebutkan pengikut Islam saat itu baru sekitar 100 - 200 orang. Rasulullah Saw dan pengikutnya dibaikot di Makkah sehingga kehidupannya bersama para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa, baik secara fisik mau pun secara ekonomi. Tiga tahun, Rasulullah Saw dan para sahabat hanya makan daun karena kaum Quraiys memboikot dan melarang perdagangan qandum dan makanan pokok lainnya".





"Karena perjuangan menyelamatkan aqidah, maka Rasulullah Saw atas perintah Allah Swt melalui malaikat Jibril melakukan hijrah dari kota Makkah menuju kota Madinah," urai Budiman Sulaiman, yang menjabat sebagai Wakil Dekan pada Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare.





Rasulullah Saw memiliki kesabaran yang luar biasa tingginya, lanjut Budiman dalam taushiyahnya, beliau tidak pernah menyerah dan membalas kekejaman kaum Quraiys tersebut. Andai Rasulullah mau, cukup beliau berdoa kepada Allah Swt untuk menghancurkan kaumnya, seperti yang dilakukan para Nabi sebelumnya. Tetapi beliau tak sedikit pun mengeluh, menyerah dan berdoa untuk itu.





"Di situlah, keluhuran dan ketinggian akhlak Rasulullah Saw. Keburukan dan kejahatan tidak pernah dibalas dengan keburukan yang sama. Rasulullah Saw adalah rahmatan lil alamin. Jadi, intisari ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam harus jadi cahaya penerang di sekitarnya. Tidak boleh jadi gelap dan menggelapkan masyarakat," urai ustadz Budiman Sulaiman, yang dikenal dengan seruan-seruan kemanusiaannya.





Ustadz Budiman juga mengapresiasi Pemerintah Kota Parepare. Menurutnya, perjuangan Pemerintah Kota Parepare telah memancarkan "nur budi atau bercahaya". Ada berbagai program yang telah memancarkan cahaya tersebut. Seperti pemberangkatan umrah bagi imam-imam Masjid dan adanya tim zikir yang mempelopori gerakan zikir di kota Parepare. Program ini lah yang akan menebarkan cahaya dan penerang bagi masyarakat", kuncinya.


Selasa, 20 Agustus 2019

ENERGI HASBALAH DI ZONA HAWQALAH (Bag. 2)


OPINI





By. Budiman S.H., M.H.I (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)









Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalaam menunjukkan bahwa beliau memiliki kecerdasan akal yang tinggi. Tetapi dia tidak hanya mengandalkan kecerdasan akal saja dalam mencari dan memperjuangkan ajaran tauhid. Di samping akal, beliau memiliki kecerdasan hati yang suci, tanpa noda dan kekeruhan di dalamnya.





اذ جاء ربه
بقلب سليم





Kita mesti
berupaya untuk mengasah kecerdasan akal dan hati secara integral dan seimbang.
Untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak bisa hanya semata-mata menggunakan
akal, apalagi IQ. Akal memang mesti didayagunakan, sebab agama hanyalah untuk
orang yang berakal. Tetapi akal yang dimaksud adalah akal yang tidak
bertentangan dengan hati nurani.





Sebab
acapkali kita jumpai orang yang mengedepankan rasionalitasnya dan mengabaikan
bahkan membohongi hati nuraninya. Mereka mengakal-akali suatu kesalahan agar
diterima sebagai suatu kebenaran dengan maksud dan tujuan tertentu untuk kepentingan
diri dan kelompoknya.





Ibadah
haji sarat dengan simbol. Seseorang baru bisa mengecap manisnya haji mabrur,
jika ia mampu menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat makna simbol dalam
ibadah haji itu. Wuquf di Arafah, misalnya, yang menjadi inti dan puncak
syariat haji adalah simbol pengenalan terhadap jati diri manusia yang kerap
terabaikan. Arafah yang berakar dari kata عرف (kenal) salah satu maknanya
adalah "padang pengenalan".





Wuquf di
Arafah adalah momentum mengenali jati diri sebagai manusia. Jati diri manusia
bukan dilihat dari wujud lahiriahnya. Karena itu di Arafah seluruh simbol
pembungkus lahiriah ditanggalkan dan diganti dalam bentuknya yang paling
sederhana, pakaian ihram. Kain putih tak berjahit, yang bermakna tanpa status,
tanpa atribut, simbol pakaian terakhir yang dikenakan ketika manusia meninggal
dunia.





Kunjungan
ziarah ruhani manusia ke tanah suci seolah simulasi kematian dan gladi bersih
manusia memasuki alam akhirat. Orang yang berziarah ke dua tanah suci
hakikatnya sedang berziarah ke alam akhirat. Yang menempel di dirinya hanya dua
helai kain putih sebagai simbol kematian, kain kafan.





Tidak
boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku, tidak boleh ini dan
itu, karena hakikatnya ia sedang mati, dan sebagaimana layaknya orang mati,
tidak dapat bergerak, tidak dapat memotong kuku dan lainnya. Pendeknya, ibadah
haji dan juga kurban merupakan ajakan kepada seluruh manusia untuk "mati
sebelum mati" atau "mati dalam hidup".


Rabu, 14 Agustus 2019

ENERGI HASBALAH DI ZONA HAWQALAH (Bag. I)


OPINI





By. BUDIMAN, S.H.,M.H.I (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)





"Kalimat Hasbalah", حسبنا ﷲ ونعم الوكيل ini kelihatannya dzikir sederhana, namun sarat makna yang luar biasa. Dzikir menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tempat bersandar. Dzikir, wirid dan doa memang memiliki energi yg dipancarkan Allah dlm bentuk nur (cahaya). Nur Allah itu merupakan energi mutlak yg mengalahkan semua energi lainnya. Sifat energi yg bersumber dari Nur Allah itu bermacam-macam. Ada yg halus, lembut, keras, kasar, lentur, panas, dingin dan lainnya.





Dzikrullah adalah cara terbaik utk memulihkan kekuatan kita, mengakses sumber daya tanpa batas yang ada di sisi Allah, asalkan dzikir dilakukan dengan ikhlas dan pasrah sepenuh-penuhnya kepada Allah. Sudah lupa dan tidak perduli lagi apakah doanya dikabulkan karena telah larut dalam kenikmatan dzikrullah. Saat seperti itu, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam memasuki "zona hawqalah", wilayah kepasrahan total-mutlak kpd Allah:





لا حول ولا قوۃ الا بالله





Itulah sebabnya mengapa Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak terbakar dlm kobaran api. Api yg sangat besar pun menjadi tunduk pada perintah Allah, sehingga berubah menjadi dingin demi keselamatan Nabi Ibrahim 'alaihissalaam (QS. Al-Anbiyaa [21]:69):
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِی بَرْدًا وَسَلٰمًا عَلٰی اِبْرٰهِيْمَ





Anregurutta Ibnu 'Abbas mentadabburi ayat ini dengan sebuah pernyataan menarik:
لَوْ لَمْ يَقُلْ سَلٰمًا لَمَاتَ اِبْرٰهِيْمُ مِنْ بَرْدِ النَّارِ وَبَقِيَتْ ذَات بَرْدٍ أَبَدًا





"BennengE dee' nakkeda puangE "salaaman" (mappassalaama'), maatei Nabi Ibrahim nataro cekke' ri lalenna api mallumpa-lumpaE nennia macekke' mattaruui apiE naraapii makkokkuaE". (Andaikata Allah tdk berfirman "salaaman", Nabi Ibrahim akan mati kedinginan dalam kobaran api dan api itu akan dingin permanen sampai detik ini).





Nabi Ibrahim 'alaihissalaam masyhur dengan kerendahan hatinya. Hal ini terekam dalam ayat 127 QS. al-Baqarah:
واذ يرفع ابرٰهيم القواعد من البيت واسمٰعيل ربنا تقبل منا انك انت السميع العليم





Ayat ini mengintrodusir ketawadhu'an, rasa takut/khawf dan harap/rajaa' Nabi Ibrahim 'alaihissalaam bersatu dengan seimbang.





Membangun Baitullah adalah ibadah yg agung. Namun Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tetap berdoa agar Allah menerima ibadahnya karena yg terpenting dari suatu amal adalah ketika amal itu diterima. Setinggi apapun derajat kita, niscaya kita selalu membutuhkan Allah agar Dia menerima amal ibadah kita.





Renungkanlah, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam saja yg khaliilurrahmaan masih berdoa kepada Allah agar amalnya diterima. Doa ini dapat memberangus sikap 'ujub dan takabbur dlm jiwa, sebab suatu amal tidaklah dilakukan dan suatu kejadian menimpa diri kita melainkan atas kehendak Allah. Karenanya amat disayangkan jika masih terdengar ucapan, misalnya: "iyya' makkareeso, iyya' majjaama atau iyya' manrasa-raasa" (Aku yang berkarya, aku yg bekerja, atau aku yang pontang-panting).





Ucapan ini dan semacamnya adalah ucapan Qarun di abad modern yg sejatinya substansinya sama yaitu sikap angkuh dan takabbur yg menafikan Allah dan menyepelekan andil orang lain.


Selasa, 21 Mei 2019

Peringati Nuzulul Quran, Yasin Soumena; Pemimpin Harus Berpegang pada al-Quran


Humas IAIN Parepare--- M. Yasin Soumena, menuturkan bahwa pernah mendengar pesan dari gurunya, Prof.Dr. Abd. Muin Salim, ada dua hal penting yang sangat diharapkan dalam peringatan Nuzulul Quran. Pertama, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai hidayah. Kedua, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai rahmatan.






Alquran adalah hidayah Allah. Melalui peringatan Nuzulul Quran kita harapkan agar nilai-nilai Alquran bisa menjadi petunjuk dan teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin di negeri ini. Sebab jika petunjuk Alquran mereka jalankan dengan benar, maka akan berhati-hati dalam menjalankan tugas kesehariannya.






Kedua, Alquran sebagai rahmatan, pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Jadi kebaikan yang terdapat dalam Alquran bukan semata-mata untuk umat Islam. Kebaikan atau rahmatan yang terdapat dalam Alquran akan mengayomi dan memberi ketenteraman bagi seluruh manusia.






Bagi negeri tercinta ini, kata Wakil Dekan Bidang AUPK FEBI IAIN Parepare, masalah berkah jelas sangat dibutuhkan. Sebab ketenteraman menjadi prasyarat utama bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi dalam menghadapi situasi kekinian pascapemilu 2019, hikmah Nuzulul Quran sangat dibutuhkan bagi semua komponen yang terlibat dalam proses pemilu tersebut.






Sayangnya, lanjut Yasin Soumena, peringatan Nuzulul Quran selama ini masih sebatas serimonial belaka. Buktinya, setiap tahun kita rayakan secara besar-besaran tapi nilai-nilai yang terdapat dalam perayaan Nuzulul Quran itu terlupakan ketika menata pemerintahan. Kita menganggap itu hanya ritual belaka. Kebanyakan dari kita hanya menganggap agama sebatas hubungan dengan Allah belaka, sehingga kita menangani sosial-kemasyarakatan, kadang mengabaikan norma-norma agama.






Seperti yang dituturkan Muin Salim, ketika kita shalat, ingatan kita ke Tuhan sangat tinggi dan khusu’. Tapi saat kita berada di kantor, pasar, dan tempat kerja, Tuhan malah terlupakan. Jadi kekhusuan masih sebatas dalam shalat. Tidak dirasakan sebagai satu bagian dalam kehidupan, ujar Yasin Soumena menirukan contoh yang dikemukan oleh gurunya itu.






Umat Islam perlu memperbanyak ibadah dan doa di malam Nuzulul Quran, dan sepuluh malam terakhir Ramadan. Perlu memperbanyak doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT, agar bangsa kita mendapat rahmat dan hidayah, sehingga rakyatnya bisa sejahtera dan pemimpinnya amanah. Tidak perlu kita lakukan persiapan khusus. Beribadalah seperti biasanya, walau kita mengharapkan berkah Lailatul Qadri, seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, Ujar Yasin.






Menurut bapak kelahiran Ambon ini, gurunya itu berpesan, kita tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang keliru bahwa, beribadah karena mengharapkan Lailatul Qadri. Ibadah dengan niat untuk mendapatkan Lailatul Qadri adalah tidak murni. Dan ingat, hanya ibadah yang murni yang dapat diterima oleh Allah SWT.


Rabu, 08 Mei 2019

RAMADAN; PENJEMPUTAN YANG KELIRU?


Opini





M. Yasin Soumena





Dosen dan Wakil
Dekan
Bidang AUPK FEBI
IAIN Parepare





RAMADAN, sebuah istilah ritual yang sudah melembaga dalam setiap hati muslim. Term Ramadan, penuh dengan berbagai keunikan dan keistimewaan, sehingga sebahagian masyarakat muslim yang mendengar kedatangannya pasti mengucapkan Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadan “Selamat Datang Ya Ramadan”.





Sebahagian
masyarakat Islam lebih menggunakan tahniah yang sangat halus lagi, yakni Marhaban Ya Ramadan, yang bermakna “luas
atau lapang”. Setiap tahun, bulan ini hadir di tengah-tengah komunitas muslim
dalam memberi nuansa baru untuk manata hidup dan kehidupannya.





Kini,
bulan Ramadan itu datang lagi. Tapi sayangnya, tidak semua orang muslim senang
dengan kedatangannya. Mengapa? Karena bulan ini hanya diperuntukan bagi orang
yang beriman. Jadi yang tidak memiliki nilai-nilai keimanan otomatis tidak
ingin didatangi oleh bulan mulia ini.





Bagi
mereka yang beriman, pasti terharu dan gembira, bahkan meneteskan air mata kegembiraan
karena masih diberi kesempatan oleh Allah swt menjumpai tamu agung ini. Mereka
menganggap bahwa ini adalah tamu istimewa yang perlu dijemput.





Perlu
dijemput dengan suasana lapang dada dan penuh kegembiraan, kesucian hati,
penetesan air mata, menyiapkan suasana rumah yang bersih, menampakan wajah yang
berseri keharuan, bukan menggerutu, dan suasana indah lainnya.





Ini
terjadi seperti layaknya seorang yang baru bertemu tamu tercinta dan sangat
dirindukan setelah berpisah selama satu tahun. Siapapun pasti merasakan hal
yang sama ketika berpisah dengan tamu yang sangat disenangi dan dicintai,
kemudian dipertemukan kembali setelah setahun berpisah.





Apalagi
saat berpisah tahun lalu diwarnai “lambaian tangan” dan isak tangis
mengharukan. Bagi tamu agung ini, kita siap atau tidak, kita terima atau tidak,
kita jemput atau tidak ia pasti berada di tengah-tengah kita untuk melihat
suasana kehidupan selama satu tahun tersebut.





Persiapan





Menurut
Quraish Shihab, term marhaban
menggambarkan tamu yang datang perlu di sambut dan diterima dengan dada lapang,
penuh kegembiraan serta disiapkan ruangan yang luas untuk melakukan segala yang
diinginkannya. Dengan demikian, lanjut Quraish Shihab, Marhaban Ya Ramadan mempunyai konotasi bahwa kita menyambutnya
dengan penuh kegembiraan, tidak menggerutu, dan tidak menganggap kehadirannya
mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita.





Kita
siapkan tempat yang luas agar bebas melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya
mengasuh dan mengasah jiwa kita. Sayangnya, kita sering keliru memahami
kesiapan dalam menyambut bulan Ramadan. Kita bisa saja mudah mengucapkan Marhaban Ya Ramadan, tapi menjadi tanda tanya
apa yang perlu kita siapkan.





Bisakah
kita mengelak dan menjawab secara retorika bahwa kita sudah siap mental dan
fisik.Tapi jawabannya tentu tidak sampai di situ karena orang lain akan melihat
apa di balik tingkah laku seorang dalam menyambut bulan ini.





Banyak
orang telah siap mental dan fisik, tapi tempat dan lingkungan yang akan dihuni
tamu agung ini sungguh menyedihkan. Jauh dan tidak layak bagi seorang tamu
bernama Ramadan.





Coba
lihat praktik orang-orang di wilayah paling timur negeri ini, masyarakat Islam
di pesisir pantai daerah Maluku. Kebiasaan yang sudah membudaya, yakni setiap
menjelang bulan Ramadan semua peralatan rumah dibawa ke sungai atau laut untuk
dibersihkan.





Rumah
dan lingkungan dicat dan dibersihkan dari debu atau kotoran yang dianggap dapat
mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, sehingga saat masuk bulan Ramadan hidup
mereka terasa bersih dan nyaman. Mereka membersihkan rumah dan halaman bukan
menjelang hari raya Idul Fitri, tapi menjelang Ramadan.





Ini
berbeda dengan yang dipraktikan di daerah ini (Sulsel). Sebahagian besar
masyarakat membersihkan rumah dan lingkungan menjelang lebaran. Prinsip baku
dan sudah merupakan “warisan” nenek moyang, biar hidup dalam suasana apa
adanya, nanti menjelang lebaran baru dibenahi.





Konotasinya,
ternyata yang disiapkan bukan untuk tamu agung itu, tapi tamu antar sesamanya. Terasa
malu jika tamu yang datang berhaalal bi
halal
melihat suasana rumahnya tidak indah. Tapi tidak merasa malu ketika
tamu agung yang datang itu melihat suasana rumah dan lingkungannya penuh
kotoran.





Tamu
agung ini tentu akan bertanya, bisakah Anda berpuasa dengan baik jika
lingkunganmu tidak sehat? Jawabannya, bisa “ya” dan bisa “tidak”, tergantung
manusianya. Karenanya, perlu dirubah pola pikir dan praktik kita, bahwa
sebaiknya pembersihan rumah dan lingkungan itu dilakukan menjelang Ramadan,
bukan menjelang lebaran. Sebab, yang lebih diutamakan adalah Ramadannya, bukan
lebaran.





Wallahu ‘Alam bi
al-Sawab


Selasa, 30 April 2019

Bedah Buku, Yasin Soumena; Banyak yang Pahami HAM Sebatas Konsep


Humas IAIN Parepare--- Yasin Soumena tampil memukau
saat membedah dan mengulas bukunya sendiri yang berjudul “Membangun Tatanan
Negara Berdasarkan Idiologi dan Konstitusi” pada acara bedah buku yang digelar
oleh pengelola Perpustakaan di Lantai 5 Gedung Perpustakaan IAIN Parepare, 29
April. Buku setebal 330 halaman yang laris manis dikalangan akademisi,
khususnya para mahasiswa ini mengurai secara detail berbagai pandangan dan konsepsi
idiologi, konstitusi, demokrasi, wawasan kebangsaan, dll.









Yasin Soumena mengatakan bahwa dalam bukunya mengurai
berbagai persfektif tentang idiologi. “Idiologi merupakan pemikiran manusia,
tetapi tidak semua pemikiran manusia bisa disebut sebagai idiologi. Pemikiran
mewujud sebagai idiologi jika dirumuskan menjadi sistem yang sempurna yang
meliputi sosial, politik, hukum dan budaya. Idiologi hadir untuk menjawab
tantangan-tantangan yang bersifat konkrit” urai dosen mata kuliah Pancasila,
yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan FEBI. Menurutnya, dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, para founding father kita merumuskan Pancasila sebagai
idiologi bangsa dan negara.“Pancasila merupakan pandangan hidup yang menjadi
pedoman dan dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara, itu berarti Pancasila
menjadi sumber dari segala sumber kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai Pancasila harus termanifestasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.”
paparnya.









Dosen kelahiran Maluku ini, mencontohkan implementasi nilai-nilai Pancasila yang berhasil membangun tatanan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. ”Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga melaksanakan shalat Idul Fitri di Makassar. Lokasi masjid berdekatan Gereja. Saat itu, pelaksanaan shalat Idul Fitri juga bertepatan pada hari Ahad bersamaan dengan pelaksanaan ibadah di Gereja. Jamaah Idul Fitri membludak, tidak tertampung di Masjid lagi. Akhirnya Jamaah Gereja yang melihat itu, langsung mempersilahkan orang Muslim untuk memanfaatkan halaman Gereja untuk dipergunakan shalat,” kisah Yasin menceritakan pengalamannya tentang pengamalan Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.









“Dalam buku ini, juga berbicara tentang demokrasi.
Bagaimana membangun warga negara yang demokratis? Masyarakat yang demokratis
adalah masyarakat yang miliki rasa keterbukaan, empati, 
hormat,
kritis, rasional dan kemauan membuka dialog. Salah satu subtansi dari
masyarakat yang demokrasi adalah masyarakat yang melaksanakan hakikat Hak Asasi
Manusia (HAM). Hakikat HAM merupakan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Seseorang tidak boleh memenuhi haknya tetapi mengorbankan atau mengganggu hak
orang lain. HAM itu merupakan keseimbangan antara hak individu dengan individu
lainnya, tidak bisa saling bertentangan,” paparnya serius.









Menurutnya, banyak orang yang memahami HAM hanya sebatas konsep belaka, lupa hakikat HAM itu sendiri sebagai suatu kesimbangan. “Artinya ketika kita menjalankan hak kita maka hak orang lain juga jalan. Jangan hak kita dijalankan baru hak orang lain dikorbankan. Hal yang demikian itu, bukanlah esensi HAM yang ada pada diri kita,”tegasnya.   





Dalam teori HAM, Yasin merujuk dan mengembangkan pemikiran Baharuddi Lopa. Menurutnya subtansi HAM dalam pandangan Baharuddin Lopa adalah keseimbangan. Banyak masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara karena kita tidak menjalankan subtansi HAM secara seimbang. “Silahkan jalankan hak anda, tapi jangan mengorbankan hak orang lain. Intinya dalam hak anda, ada hak orang lain” tegasnya mengingatkan.





Sementara, Syafaat Anugrah yang menjadi narasumber pembanding memberikan penilaian terhadap buku, yang menurutnya cukup sempurna. “Secara subtansi, buku karangan Yasin Soumena ini sudah memenuhi syarat sebagai buku rujukan karena telah menggunakan semua pendekatan dalam kajian ilmu hukum tata negara. Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam kajian hukum tata negara, yaitu filosofis, normatif, sosiologis, dan historis dan buku ini runtut dalam pendekatan kajian buku ini”, kata dosen IAIN Parepare yang masih berstatus CPNS, tetapi telah mengarang dan menerbitkan 4 bukunya tentang ilmu hukum tata negara. (s.s.)